Konsep Kekayaan Menurut Islam

Kekayaan menurut islam disebut maal. Seluruh bentuk maal di alam semesta adalah milik Allah SWT. Konsep maal dijelaskan dalam Al Quran sebagai berikut : “Berimanlah kamu kepada Allah dan rasul Nya dan nafkahkanlah kamu sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman diantara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.” (QS. Al-Hadiid ayat 7).

 

Ayat di atas menegaskan bahwa harta hakikatnya adalah milik Allah. Manusia diberi sebagian harta milik Nya dengan tanggungjawab manusia diwajibkan menafkahkan hartanya sesuai ketentuan Allah agar mendapatkan pahala dan ketenangan batin.

 

Menempatkan kekayaan di dunia dalam konteks tujuan syari’ah, yaitu mashlahah, dengan demikian bermakna hak kepemilikan setiap manusia hanya berbentuk titipan atau amanah Allah. Kepemilikan permanen di dunia tidak di izinkan.

 

Tujuan manusia berusaha adalah mencari nafkah untuk mendapatkan rezeki yang memiliki nilai tambah bagi dirinya, sosial, dan lingkungan. Dampak mencari rezeki yaitu kekayaan penuh berkah. Perlu ditekankan bahwa kekayaan bukanlah tujuan utamanya. Tujuan utama tetaplah pada tujuan syari’ah, yaitu nilai tambah untuk mashlahah, sedangkan hasil atau kekayaan hanyalah dampak yang mengikuti.

 

Bahkan menurut Hamka, kekayaan hanyalah alat dan bukan tujuan itu sendii, karena tujuan utamanya adalah mengingat Allah, Ridha Allah serta menegakkan jalan Allah (1984, 242).

 

Untuk menghindari terjadinya penyimpangan tidak mutlaknya hak dan konsentrasi terbatas atas maal, islam mengingatkan perlunya wasathan  (keseimbangan). Menurut Al Quran kara wasathan (QS. 2: 143) bersanding dengan ummah, yaitu ummatan wasathan. Ciri ummatan wasathan seperti dijelaskan Taher (2005) adalah:

 

1. Hak kebebasan harus selalu diimbangi kewajiban

2. Kesimbangan antara kehidupan dunia dan ukhrowi

3. Keseimbangan akal dan moral.

 

Konsep yang mirip seperti wasathan menurut Nasr (1994) di sebut Al Muhith (QS. 4:126). Al Muhith sebagai sifat keseimbangan alam semesta dalam bingkai sifat Allah. Artinya, keseimbangan kekayaan haruslah selalu berdimensi material – batin  - spiritual dan mengarah pada kepemilikan proporsional diri sosial dan lingkungan dalam lingkup kekuasaan Allah.

 

Al Muhith adalah realitas segala sesuatu untuk menuju kesatuan ketundukan (abd’ Allah) dan kreativtitas (Khalifatullah fil ardh) tak terpisahkan.

 

Ketika kekayaan mendatangi Anda, janganlah Anda buta mata dan buta hati. Berikanlah sebagian kekayaan Anda pada yang membutuhkan, dan gunakanlah sesuai syariat islam dengan penuh rasa ikhlas tanpa takut miskin. Dengan begitu kekayaan Anda akan selalu dalam keberkahan Nya dan Anda juga memperoleh pahala karenanya.

 

Bagaimana cara mendapatkan kekayaan itu? Dengan bekerja keras dan mengamalkan Ilmu Pesugihan.

 

Alamat Kantor

Perum Pankis Griya - Rumah No.1

Jl. Pakis Raya, RT.01/06, Jepang Pakis

Jati, Kudus, Jawa Tengah,

Indonesia - 59342

 

Call Center 1

Telepon & SMS : 082223338771

WhatsApp : 082223338771

Email : bagianpemesanan@gmail.com

 

Call Center 2

Telepon & SMS : 085712999772

WhatsApp : 085712999772

Email : SpiritualPower88@gmail.com

 

*Note : Kode area Indonesia (+62)
Contoh : +6282223338771

 

Untuk respon cepat silahkan

Telepon/SMS

 

Jam Kerja

Senin-Sabtu, pukul 08:00-22:00 WIB

Sebelum datang, telepon dulu.

 

Praktek Supranatural Resmi

Terdaftar di Dinas Kesehatan & Kejaksaan

STPT DINKES: 445/515/04.05/2012

KEJARI: B-18/0.3.18/DSP.5/12/2011

Lihat Bukti Legalitas - Klik Disini